PIKIRAN RAKYAT -
Israel melancarkan serangan skala luas terhadap Gaza pada tanggal 18 Maret 2025, mengakibatkan jatuhnya lebih dari 400 korban jiwa di antara rakyat Palestina. Serbuan militer tersebut mendapat kritikan tajam dari komunitas global.
Rusia mengingatkan tentang potensi 'per spiral meningkatnya tensi' menyusul serangan baru-baru ini oleh Israel ke Gaza yang telah merenggut nyawa sebagian besar perempuan dan anak-anak.
"Kondisi yang semakin menurun dan peningkatan tekanan menjadi hal yang mengkhawatirkankami," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov saat berbicara dengan para jurnalis di Moskow seperti dilansir oleh Anadolu Agency.
Peskov mengatakan bahwa Rusia akan tetap mengawasi kondisi di Gaza dengan harapan situasinya dapat kembali menuju ketenangan dan perdamaian.
Sejak serangan Oktober 2023, Israel telah membunuh 48.500 warga Palestina yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 112.000 lainnya mengalami luka-luka.
Dunia internasional secara berkali-kali sudah menyuarakan kritik terhadap tindakan Israel yang dinilai melancarkan genosida di Gaza. Di bulan November tahun 2024 ini, Pengadilan Kriminal Internasional merilis warrant penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta bekas Menteri Pertahanannya Yoav Gallant.
Keduanya dinilai sebagai dua orang yang harus bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Tak hanya perintah penangkapan, Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional karena genosida di Gaza.
Palestina desak dunia internasional
Mengenai serangan baru-baru ini dilancarkan oleh Israel ke Jalur Gaza, Kementerian Luar Negeri Palestina meminta komunitas internasional mengambil tindakan cepat guna mencegah Israel melanjutkan ofensifnya.
"Intervensi dalam usaha global untuk memulihkan Gaza serta penolakan Israel atas tanggung jawab gencatan senjata," sebagaimana disebutkan dalam pernyatannya.
"Kami mendesak kebijakan internasional yang kuat untuk mencegah agresi secara cepat serta memberikan peringatan terhadap usaha penjajahan demi mewujudkan rencana mereka untuk mengusir warga negara kita," ujar departemen itu.
Fasilitas kesehatan rusak
Serangan oleh Israel tersebut juga merusak berbagai infrastruktur medis di Gaza. Palang Merah Internasional telah menegaskan tentang situasi darurat yang dapat mengancam layanan kesehatan di wilayah itu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi kekurangan obat-obatan di Jalur Gaza yang juga telah dikonfirmasi oleh Palang Merah Palestina (PRCS).
"Sekali banyaknya fasilitas perawatan kesehatan menghadapi beban berlebihan di seantero Gaza," ungkap Tommaso Della Longa yang merupakan pembicara dari Federasi Antarbangsa Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Della Longa mengatakan fasilitas medis sedang berjuang dengan jumlah pasien dan tekanan pada persediaan medis yang semakin menipis.
"Ada kelangkaan pangan, peralatan, serta bahan bakar," ujarnya.
Juru bicara WHO, Tarik Jasarevic mengingatkan bahwa persediaan obat-obatan kian berkurang.
"Sayangnya, akibat kurangnya obat-obatan tersebut, terdapat potensi staf medis tidak bisa menyediakan perawatan bagi bermacam-macam kondisi medis, bukan hanya untuk luka traumatik," jelasnya saat diwawancara oleh reporter.
Kondisi rumah sakit di Gaza yang sangat memprihatinkan semakin diperburuk oleh penolakan masuknya bantuan. Sebenarnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyiapkan 16 truk penuh peralatan kesehatan yang ingin dimasukkan ke wilayah tersebut, namun hal ini membutuhkan jeda dalam pertempuran serta izin akses. ***
Komentar
Posting Komentar