Rachmat Gobel Buka Rahasia Atasi Kebijakan Tarif Impor AS di Era Trump

Anggota Komisi VI DPR RI Rachmat Gobel merinci langkah-langkah untuk menanggapi keputusan presiden AS Donald Trump.

Telah diketahui bahwa Trump baru-baru ini mengimplementasikan tarif impor sebanyak 32% terhadap Indonesia.

Karenanya, Rachmat Gobel mengusulkan kepada pemerintah untuk merancang suatu strategi. Berikut beberapa saran yang diajukan?

Menurut laporan dari KompasTV, Rachmat Gobel menyarankan agar pemerintah menyediakan fasilitas dan mempermudah proses deregulasi izin untuk para investor.

Di samping itu, diusulkan agar pemerintah menyiapkan insentif perpajakan serta biaya operasional yang lebih rendah untuk sektor bisnis.

Berikutnya, memantau dengan cermat gerbang masuk ke Indonesia guna mencegah penetrasi barang haram.

Selanjutnya, menghentikan impor tekstil dan barang-barang bertekstil yang menggunakan motif tradisional Indonesia seperti batik, tenun, dan sulaman dengan cara permanen.

"Dilarang selamanya pengimporan baju secondhand. Menolong mencari jalur ekspor alternatif untuk barang-barang produksi Indonesia. Melakukan negosiasi dengan pihak berwenang Amerika Serikat agar mengurangi bea masuknya produk-produk tersebut. Memelihara serta melindungi pangsa pasaran lokal dari invasi komoditas luar negeri," katanya dalam pernyataan tertulis pada hari Kamis, 3 April 2025.

Politikus dari Partai Nasdem meminta semua pihak, khususnya pemerintah, untuk berhati-hati dan melindungi Indonesia dari pengaruh keputusan yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump.

"Upaya Trump ini bakal berimbas signifikan pada Indonesia. Singkat saja, marilah kita lindungi serta selamatkan negeri ini dari ancaman yang menghadang," ujar Gobel.

Gobel menganggap bahwa aturan harga terbaru tersebut memiliki potensi untuk memberi efek besar pada ekonomi Indonesia.

Dia menegaskan bahwa meskipun kebijakan tersebut belum dilaksanakan, Indonesia sudah mulai menghadapi proses deindustrialisasi di mana berbagai pabrik ditutup dan karyawan terkena PHK.

"Kemungkinannya adalah situasi tersebut bakal terus berkembang lebih jauh," katanya.

Dia juga menyoroti tren penurunan nilai tukar rupiah melawan mata uang asing, hal ini bisa memperparah situasi ekonomi dalam negeri.

"Produk dari China dan Vietnam mungkin saja membanjiri pasaran di Indonesia. Hal ini perlu dihindari. Kami harus menjaga pangsa pasar lokal terhadap gelombang barang impor, termasuk dengan mengimplementasikan ketentuan tentang Tingkat Komposisi Dalam Negeri (TKDN)," ucapnya.

Di samping itu, dia menggarisbawahi kepentingan untuk memelihara situasi sosial dalam negeri.

"Perkokoh persaudaraan dan kesadaran sosial. Ayo kita berkolaborasi dalam merawat Indonesia. Manfaatkan momentum ini sebagai titik balik. Kita rubah hambatan dan tantangan menjadi jalan menuju pembangunan semangat gotong royong, mencintai tanah air, serta mewujudkan tindakan yang bebas dari suap dan favoritisme," ujarnya.

Sebagaimana dilaporkan Kompas.com sebelumnya, Presiden Amerika Serikat menerapkan bea masuk pada beberapa negara ASEAN (Sekretaris Negara Asia Tenggara). Berikut adalah daftar dari tarif impor tersebut:

- Kamboja 49 persen

- Laos 48 persen

- Vietnam 46 persen

- Myanmar 44 persen

- Thailand 36 persen

- Brunei Darussalam 24%

- Malaysia 24 persen

- Filipina 17 persen

- Singapura 10 persen

- Timor Leste 10 persennya

"Kami dan para pembayar pajak di negara kami sudah menjadi korban penipuan selama lima dekade, tapi situasi tersebut takkan berulang," kata Trump seperti dilansir dari akun @whitehouse.

Maka, apa sebabnya Trump menerapkan tariff 32% kepada Indonesia?

Trump menerapkan tariff sebesar 32% karena Indonesia dianggap memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi untuk etanol dari Amerika Serikat.

Berdasarkan situs web resmi Gedung Putih pada hari Rabu, tanggal 2 April 2025, diketahui bahwa Indonesia mengenakan tarif sebesar 30%, sementara Amerika Serikat hanya memberlakukan tarif sekitar 2,5% untuk barang-barang yang sama.

Trump juga menyebutkan bahwa rintangan nontarif yang dirancang untuk membatasi volume impor atau ekspor serta melindungi sektor manufaktur lokal telah mereduksi akses para pengusaha Amerika Serikat terhadap berbagai pasaran global.

"Indonesia telah menetapkan aturan tentang isi lokal di beberapa bidang, proses izin import yang rumit, serta mulai tahun ini bakal mensyaratkan perusahaan pertambangan agar mentransfer seluruh penerimaan dari penjualan ekspornya ke bank dalam negeri jika nilainya mencapai 250.000 dolar AS (kira-kira setara dengan 4,1 miliar rupiah)," ungkap Trump.

Sebaliknya, sang presiden ke-47 Amerika Serikat itu juga menyebutkan alasannya mengenakan tariff bagi beberapa negara lain.

Dia menyebutkan bahwa implementasi tariff adalah cara untuk membalas tindakan negara-negara yang memberlakukan bea masukan pada produk-produk Amerika Serikat.

"Tarif balas dendam" milik Trump akan mendorong perusahaan agar memindahkan produksi ke Amerika Serikat dengan cara mensanksi bisnis yang merakit barang-barangnya di negara lain.

Implementasi tariff ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan bagi pemerintah pusat dan mempertimbangkan bahwa tariff bisa menjadi alternatif untuk pajak pendapatan.

Untuk Kanada, Meksiko, serta China, Trump menerapkan bea masukan lantaran ketiga negeri tersebut belum melakukan upaya signifikan dalam menangani aliran fentanil ke Amerika Serikat.

Tarif juga digunakan sebagai strategi negosiasi untuk mendapatkan koncessi dari negara-negara lain. Sebagai contoh, tekanan diberikan kepada Kolombia lantaran negeri itu enggan menerima kebijakan ekspor imigran gelap.

"Pekerja besi, tenaga kerja otomotif, pertanian, serta pengrajin berbakat di Amerika Serikat, kita mempunyai banyak orang seperti itu yang hadir bersama kita hari ini, dan mereka sungguh-sunguh mengalami kesulitan," demikian kata Trump sebagaimana dilaporkan NBC pada Rabu (2/4/2025).

Mereka melihat dengan kesedihan saat para pemimpin luar negeri sudah merebut pekerjaan kami. Penipu-penipu dari luar negeri merusak pabrik kami, sementara gelandangan-gelandangan asing tersebut telah menyingkirkan mimpi-mimpi indah Amerika Serikat," katanya.

Direktur Eksekutif dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut bahwa keputusan Presiden Trump untuk menaikkan tarif sebesar 32% bagi Indonesia dapat memunculkan kemacetan ekonomi di akhir tahun 2025 ini.

Kebijakan itu pun bakal mengubah jumlah ekspor Indonesia menuju AS serta memiliki efek merugikan pada besarnya ekspor ke negeri lainnya.

Efek lainnya ialah industri otomotif dan elektronika dapat menghadapi tantangan besar akibat beban biaya tambahan bagi konsumen Amerika Serikat. Karena mereka harus membayar tarif impor yang menyebabkan harga mobil menjadi lebih tinggi, hal ini berdampak pada penurunan jumlah penjualan kendaraan roda empat.

"Transisi produsen otomotif Indonesia menuju pangsa pasar lokal tak secepat membalikan telapak tangan, mengingat spesifikasi mobil untuk ekspor berbeda dengan produk dalam negeri. Hal ini akan memiliki dampak pada PHK serta menurunkan produktivitas seluruh sektor otomotif nasional," terang Bhima seperti dilansir Antara, Kamis (3/4/2025).

Bhima juga prihatin dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 0,08 persen serta sektor manufaktur berbasis tenaga kerja intensif, contohnya produksi pakaian dan bidang textile.

Sektor garmen dan tekstil bakal dipengaruhi oleh keputusan Trump sebab berbagai merek global dari Amerika memiliki pasaran luas di Indonesia.

"Bila terkena tarif yang lebih tinggi, merek tersebut akan mengurangi volume pesanan atau pemesanan ke pabrik Indonesia. Di sisi lain, dalam negeri kita mungkin dipenuhi oleh barang-barang dari Vietnam, Kamboja, dan China karena mereka mengejar pangsa pasarnya sebagai alternatif," papar Bhima. (*)

Artikel ini sudah dipublikasikan di KompasTV dan Kompas.com

Komentar