.JERUSALEM - Angkatan Bersenjata Israel mengakui bahwa unitnya telah membombardir suatu bangunan yang dimiliki oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di kota Rafah, bagian selatan Gaza, pada hari Senin (24/3/2025) malam waktu lokal.
Dalam suatu pengumuman, militer Israel menyampaikan bahwa unit mereka yang bertindak di Rafah telah menghujani bangunan itu pada hari yang bersamaan setelah "menandai individu sebagai target dan mendeteksi potensi bahaya bagi personelnya."
Tidak terdapat laporan adanya korban dalam insiden itu, namun bangunan ICRC menderita kerusakan kecil.
"Setelah melakukan inspeksi, ditemukan bahwa identifikasi awal salah dan bangunan tersebut merupakan properti Palang Merah," kata militer Israel sambil menyebutkan bahwa insiden ini akan ditinjau dengan lebih mendalam.
Serangan tersebut terjadi tak lama setelah pasukan Israel menyerang suatu bangunan yang dimiliki oleh PBB, mengakibatkan satu pekerja tewas dan lima orang lagi cedera.
Sejak invasi Israel ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, banyak pekerja kemanusiaan dari beragam organisasi sudah beberapa kali menjadi target serangan.
Pada serangan terakhir kali ini, ICRC mengklaim melalui media sosial X bahwa markas mereka yang ada di Rafah ternoda oleh tembakan proyektil peledak, walaupun lokasi itu sebelumnya sudah diperingatkan dan ditanda-tandai secara jelas kepada seluruh pihak terkait. Di sisi lain, angkatan bersenjata Israel membantah dengan alasan bahwasanya tentaranya tak menyadari status asosiatif bangunan tersebut.
Kelompok tersebut mengatakan tidak ada staf yang cedera dalam insiden tersebut, namun mereka menambahkan bahwa serangan itu secara langsung mempengaruhi kapabilitas operasional ICRC.
Palang Merah tegas mengutuki serangan tersebut, menyatakan bahwa undang-undang humaniter internasional melindungi secara istimewa petugas bantuan kemanusiaan dan medis, rumah sakit, serta properti yang dipakai dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan.
"Mereka harus diberi penghargaan dan perlindungan pada setiap kondisi agar dapat menjamin keberlanjutan pelayanan," katanya.
Pasukan Israel memulai serangan udara tak terduga di Jalur Gaza pada tanggal 18 Maret, mengakibatkan setidaknya 730 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya luka-luka meski sudah ada perjanjian gencatan senjata serta pertukaran tawanan yang telah efektif sejak bulan Januari.
Lebih dari 50.000 penduduk Palestina sudah tewas, mayoritasnya wanita dan anak-anak. Di sisi lain, lebih dari 113.200 orang luka karena serangan militer Israel yang kejam di Gaza mulai bulan Oktober tahun 2023.
Komentar
Posting Komentar