Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengklaim bahwa sektor otomotif dalam negeri pada dasarnya tidak terpengaruh secara langsung oleh keputusan presiden AS, Donald Trump, tentang tarif perdagangan yang saling melengkapi tersebut.
" Kami tidak mengalami pengaruh karena tak adanya perdagangan dengan Amerika Serikat; kami tidak mengekspor barang ke sana maupun mengimpor kendaraan berbentuk lengkap CBU darinya," jelas Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara saat diwawancara pada hari Rabu, 9 April.
Seperti halnya Kukuh, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam juga menyatakan bahwa walaupun tidak memiliki pengaruh langsung, negara tetap harus memperhatikan konsekuensi-konsekuensi lain yang muncul akibat dampak tersebut.
"Memang dampak langsung tidak ada, karena ekspor kita dalam (bentuk) komponen ke AS, tetapi harus dicermati dampak lainnya seperti pelemahan kurs rupiah dan pelemahan ekonomi karena sektor lain yang terdampak," buka Bob Azam kepada pekan ini.
Dampak tersebut dikhawatirkan menjadi efek domino yang mempengaruhi sektor lain di industri otomotif, seperti komponen dengan teknologi tinggi. Kemudian kenaikan suku bunga hingga berkurangnya daya beli masyarakat akibat melemahnya industri lain.
Mari kita serahkan tugas ini kepada pemerintah untuk take action Semoga dapat ditangani dengan baik dan kita mampu mengubahnya. pinch to chance jelaskan orang yang sama dan juga mengemban posisi Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bagian Ketenagakerjaan ini.
Berdasarkan data Gaikindo, tidak ditemukan produk ekspor otomotif yang dikirim langsung ke AS. Namun, kebijakan itu bukan berarti tak bakal menutup peluang Indonesia jika suatu saat ingin merambah ekspansi ke Negeri Paman Sam tersebut.
"Karena tarif tinggi ini kan yang membayar konsumen yang di sana. Kalau barangnya diminati dan butuh mereka pasti akan impor," tuntas Kukuh.
Indonesia merupakan salah satu penghasil kendaraan bermotor yang diekspor secara keseluruhan atau dengan istilah Completely Built Up (CBU) menuju berbagai negara di Benua Amerika, khususnya Amerika Tengah dan Amerika Selatan seperti Meksiko, Uruguay, Panama, Chili, dan lain-lain.
"Untuk mengantisipasi hal tersebut, Indonesia wajib lebih berhati-hati. Pihak pemerintahan dituntut agar dapat meredam dampak negatif ini melalui peningkatan keragaman destinasi ekspornya. Selain ke Amerika Serikat, kita juga perlu fokus pada pasar-pasar internasional lainnya, terlebih lagi bagi anggota BRICS dimana Indonesia telah menjadi bagian darinya," jelas Pengamat Otomotif dan Dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu.
Asosiasi Komponen Otomotif Indonesia cemas terhadap maraknya barang dari Cina yang mengaliri pasar dalam negeri.
Di sisi lain, anggota dari Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), yaitu perusahaan-perusahaan komponen otomotif, mengekspresikan keprihatinan mereka tentang efek dari keputusan Presiden Trump untuk memberlakukan bea masuk sebesar 32% bagi produk-produk impor kepada industri di Indonesia.
Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mendukung implementasi pembatasan non-tarif seperti Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta Sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), untuk mengamankan industri dalam negeri dari ancaman produk impor berkualitas rendah dan berharga tinggi.
"Meskipun ada hambatan, kami tetap berpandangan positif. Pasar di Amerika masih dapat dimasuki. Sejauh bea yang diberlakukan kepada Cina tidak lebih rendah daripada milik kami, pabrikan lokal masih memiliki kesempatan untuk bertanding," kata Basuki dalam pernyataan resmi pada hari Minggu (6/4).
Basuki juga mengomentari kemungkinan banjir pasokan komponen otomotif dari China di pasar Indonesia karena kebijakan perdagangan AS terhadap negara tersebut. Dia menyebutkan bahwa barang-barang murah dari China, khususnya yang dibutuhkan untuk industri otomotif, dapat membanjiri pasar lokal sebagai dampak dari sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat kepada Tiongkok. aftermarket ,dikhawatirkan dapat melemahkan daya saing produk dalam negeri," tandasnya.
***
New Energy Vehicle Summit 2025 akan digelar pada Selasa, 6 Mei 2025, di MGP Space, SCBD Park.
Dengan tema "Kolaborasi Menuju Industri Otomotif yang Berkesinambungan," acara debat ini menyertakan berbagai pihak terkait seperti tokoh industri, ahli profesional, dan duta dari pemerintahan. Mereka bertemu guna membahas dan menuangkan pandangan mereka tentang arah masa depan sektor otomotif yang lestari.
Nantikan infonya di !
Komentar
Posting Komentar