JAKARTA, Setelah menjadi anggota NDB yang didirkan oleh negara-negara BRICS, Indonesia diwajibkan menyediakan sejumlah dana investasi sebagai salah satu ketentuan keikutsertaannya.
Kontribusi tersebut cukup besar mengingat bahwa setiap anggota yang lengkap diharapkan untuk melakukan penyetoran. paid-in capital pada tingkat yang ditetapkan guna meningkatkan modal kerja bank tersebut.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut bahwa pengaruh penyetoran uang tunai untuk NDB ini pada ekonomi Indonesia harus diperhatikan dengan cermat dari sudut pandang keuangan negara.
Pemerintah mungkin akan mendapatkan dana investasi tersebut dari sumber-sumber seperti tabungan pembiayaan darurat atau pengalokasian anggaran pembelanjaan modal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari bagian-bagian yang telah ditentukan untuk penyertaan modal negara (PMN) di institusi internasional.
Namun harus diingat, sesuai pendapatnya, bahwa anggaran pemerintah Indonesia saat ini mengalami tekanan, khususnya karena proyeksi prioritas kebijakan administrasi tersebut.
"Oleh karena itu, alokasi untuk NDB dapat meningkatkan bebannya secara fiskal apabila tidak disertai dengan realokasi belanja yang efektif atau peningkatan pendapatan," jelasnya kepada , Jumat (28/3/2025).
Dia menjelaskan bahwa tujuan dari investasi tunai tersebut adalah agar NDB dapat meningkatkan kemampuan pendanaannya pada proyek-proyek infrastruktur dan pengembangan yang sustainabel, tidak hanya di negara-negara anggotanya tetapi juga di negara-negara sedang berkembang lainnya.
"Uang modal yang dikontribusikan oleh negara-negara anggota dipakai untuk mendanai proyek-proyek penting, khususnya yang tak ditanggung oleh Bank Dunia atau Dana Moneter Internasional," jelas Josua.
Menurut Josua, secara manfaat, Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan pendanaan jangka panjang dengan suku bunga yang bersaing dari Bank Pembangunan New Development (NDB) untuk proyek-proyek strategis negara, termasuk energi terbarukan, infrastruktur transportasi, dan koneksi digital.
NDB sampai saat ini telah menunjukkan rekam jejak yang cukup positif, mengembangkan beragam proyek di negara-negara BRICS seperti China, India, dan Afrika Selatan, terutama dalam sector energi terbaharuan serta infrastruktur transportasi.
Akan tetapi, menurut Josua, keberhasilan serta ketepatan proyek NDB amat bergantung pada manajemen dan persiapan proyek di setiap negara.
Secara umum, walaupun sumbangan uang tunai ini berarti biaya ekstra untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), namun jika digunakan dengan efektif, Indonesia dapat merasakan dampak peningkatan jangka panjang dalam hal pendanaan alternatif dan kedudukan geopolitis yang lebih kuat di wilayah Global Selatan.
"Pentingnya adalah dalam menyeleksi projek yang sesuai serta mengatur dana dengan ketat supaya tak memberi beban keuangan yang berlebihan," demikian katanya.
Berikut adalah pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto: Dia menyebut bahwa Indonesia diwajibkan untuk melakukan pembayaran langsung atas investasinya ketika masuk ke New Development Bank (NDB), bank yang didirikan oleh negara-negara anggota BRICS. Pembayaran ini dapat dilakukan selama periode tujuh tahun.
“Indonesia yang merupakan bagian dari kelompok BRICS memiliki hak untuk menjadi bagian dari New Development Bank. Kemarin, Keputusan telah dibuat oleh Bapak President bahwa kita akan bergabung dengan organisasi tersebut dan prosedurnya sudah disiapkan. Melalui aturan ini, kita diminta untuk berinvestasi menggunakan dana,” ungkap Airlangga seperti dikutip dalam kliping video YouTube Sekretariat Presiden pada hari Kamis (27/3/2025).
Komentar
Posting Komentar