Awalnya Dijaga Nenek, Kini Cerita gadis Muda Sungai Tabuk Yang Hidup Sebatas

,MARTAPURA -Fitri, seorang pemuda berusia 14 tahun berasal dari Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, di kabupaten Banjar menghabiskan waktunya dalam keterbatasan yang sederhana.

Rumah kecil setengah tetap berukuran 4x6 meter yang terletak di atas tanah rawa, sudah mencukupi baginya untuk menjalani hari-harinya sehari-hari.

Kehadiran tetangga yang ada disekitarnya memberikan kenyamanan tersendiri bagi Fitri dalam mengarungi kehidupannya. Bagi Fitri, semua elemen tersebut telah menjadi bagian dari keluarganya sendiri.

Tetapi, apakah Fitri di rumah tersebut benar-benar sendirian? ternyata dulu di dalam rumah itu bukanlah tempat tinggalnya yang sepi. Awalnya, ada sang kakek untuk menjaga dirinya. Tetapi si kakek telah wafat atau meninggalkan dunia selama dua tahun lalu.

Kebakaran di TPA Pasar Martapura sempat mengejutkan petugas pemadam kebakaran.

Tiba-tiba Mendapat Takjil, Warga Di Tanahlaut Mulanya Terkejut Melihat Banyak Petugas Kepolisian Di Jalan

Setelah kematian sang nenek, Fitri telah terbiasa hidup sendirian. Ibu Fitri cukup jarang mengunjunginya di dalam rumah yang sederhana tersebut.

Siang tersebut pada hari Kamis (13/3/2025), Banjarmasin Post bertemu dengan Fitri, yang kelihatan baru pulang dari sekolah (Pondok Pesantren Ramadan).

Dia terlihat pemalu dan jarang berbicara. Tetapi, di balik ketenangan dirinya tersebut, terdapat cerita kehidupan yang sangat mengharukan.

Sejak kecil, Fitri dibesarkan oleh nenek buyutnya, orang tunggal yang mempersembahkan cinta dan perhatian kepada dirinya.

Tetapi, dua tahun yang lalu, sang kakek merenggang nyawa, meninggalkan Fitri sendirian untuk berjuang melawan kehidupan yang pahit.

Di tempat tinggalnya yang sederhana tersebut, Fitri berhasil bertahan berkat dukungan dari para tetangganya yang sudah seperti keluarganya sendiri.

Bagi makanannya, Fitri bergantung pada keramahan mereka. Sedangkan untuk uang saku dan pendidikannya, setiap hari Jumat ada beberapa individu yang berbagi sebagian rejeki mereka dengannya.

Walaupun hidupnya terhambat oleh keterbatasan, Fitri tak pernah mengaku kalah. Saat ini dia berada di kelas 1 SMP Negeri 1 Sungai Tabuk.

Sekolah serta lingkungan rumahnya saat ini merupakan tempat favorit bagi dirinya. Alasan utamanya bukan semata-mata kesempatan untuk belajar, melainkan juga lantaran di sana ia menemui kehangatan persahabatan daripada kawank-kawan dekatnya.

"Di sekolah, aku merasa lebih bergairah," ujarnya sambil memancarkan keceriaan di matanya.

Tetapi, ketika ditanyakan mengenai orangtuanya, tatapannya berubah. Terdapat kesedihan yang tidak bisa diungkapkan.

"Maaf, saya tidak mengerti," sahutnya pelan.

Dalam kesendiriannya, Fitri mengalami kegembiraan melalui hobi barunya yaitu ikut serta dalam paskibra.

Dia bergairah ketika menceritakan tentang keterampilan baris berbaris dan disiplin yang ia dapatkan melalui hobinya sejak masih di sekolah.

Saat dimintai pendapat mengenai aspirasinya, Fitri menyatakan tujuannya sederhana. Ia cukup puas bila ada tempat yang bersedia mempekerjakannya. Tujuannya adalah untuk menjadi orang yang mandiri.

Cerita Fitri yang menjadi perbincangan luas di platform-media sosial menyentuh hati banyak insan. Dengan demikian, dukungan bergulir deras, datang dari organisasi nirlaba serta kantor-kantor negara. Keduanya menghadiahkan bentuk-bentuk pertolongan keuangan dan juga pendampingan.

Setelah ceritanya menyebar luas, Fitri sesaat berhenti sejenak saat dimintai pendapat tentang keadaannya—apakah dia merasa senang atau malah tidak nyaman dengan sorotan yang muncul. Dengan cepat namun pelan, dia pun memberikan jawaban-nya.

"Kecewa, campuran bahagia dan sedih," terangnya.

Meskipun demikian, Fitri tetap kukuh. Ia berkeinginan untuk mengarungi kehidupan sesuai jalan miliknya sendiri. Menurut Fitri, meraih kemandirian merupakan impiannya yang dia nantikan, walau prosesnya dipenuhi rintangan.

Pada masa muda yang belum lama ini, Fitri sudah menjalani hidup sederhana dan berhasil bertahan, meraih kegembiraan dari hal-hal sepele.

Bukan Sebatang Kara

Fitri sendirian tinggal di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, namun ia tidak benar-benar sebatang kara.

Sebelah kanannya dan kirinya telah dianggap seperti saudara dan keluarganya.

Sebenarnya, Fitri juga memiliki seorang ibu bernama Masni. Saat Masni mengandung Fitri, keluarga tersebut memutus hubungan akibat perceraian.

Masni selanjutnya mempunyai anak bernama Fitri yang lahir di Batola Marabahan kecamatan Mandasatana.

Jadi, karena diperkirakan masalah ekonomi dan keluarga, setelah si Fitri dilahirkan dan berumur 15 hari, dia diambil dan dibawa oleh almarhumah Siti Aisyah ke Batola. Almarhumah Siti merupakan sepupu dari nenek Fitri.

Berikutnya, almarhomah Siti mengantarkan Fitri dari Batola menuju Sungai Tabuk, saat SD di Desa Keramat Sungai Tabuk didirikan rumah tinggal dan sekolahannya.

"Maka kita jelaskan bahwa anak ini memiliki latar belakang jelas bukan tanpa orang tua dan kita pastikan pula bahwa anak ini berada dalam keadaan yang diketahui, bukannya ditinggalkan atau diabaikan," ungkap Fahrin (31), seorang relawan dari Pusat Kesejahteraan Sosial Desa Sungai Tabuk Keramat. Ia juga menyatakan sebagai tetangga serta memandang Fitri seperti anggota keluarga sendiri.

Kenapa Fitri tidak merana? Karena tiap harinya selalu ada orang yang menjaganya, bahkan daerah tempat Fitri menetap pun mayoritas ditempati oleh anggota keluarga Fitri.

Fahrin menjelaskan bahwa Fitri telah merasa nyaman dengan sekitarnya.

Karena, dalam perjalanannya sepanjang waktu, banyak orang yang datang membawa Fitri ke Pantiasuhan. Tetapi mereka merasa tidak cocok dengan fitrahnya dan akhirnya Fitri meminta pulang kembali.

Di tahun 2019, Fitri pun sempat menerima dukungan dari Pemda Kabupaten Banjar dalam bentuk program PKH Lansia yang selanjutnya bertransformasi menjadi Bantuan BSA YAPI. Tidak hanya itu, ia juga terpilih untuk mengikuti program Indonesia Pintir (PIP). Bahkan pada periode sebelumnya, Fitri telah memperoleh hadiah sebuah sepeda langsung dari Bupati Banjar.

Pada hari sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Banjar telah menyediakan beberapa bentuk bantuan bagi Fitri yang terdiri dari paket kebutuhan pokok, pakaian, serta uang tunai guna membantu mengurangi bebannya dalam menjalani hidup sehari-hari.

Bantuannya diserahkan oleh Bupati Banjar melalui Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan H Ikhwansyah pada hari Rabu, 12 Maret 2025.

Ikhwansyah pun menyediakan bantuan moral dan finansial padanya agar dapat meneruskan studi.

"Di masa depan, Pemerintah Kabupaten Banjar berencana untuk memastikan bahwa Fitri menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH), Yayasan Anak Piatu Indonesia (YAPI), dan juga dukungan dalam memperbaiki tempat tinggal yang tidak layak dihuni. Selain itu, mereka akan menyediakan pendampingan psikologis jika pihak terkait merasakan adanya trauma," ungkap Ikhwansyah. (/Nurholis Huda)

.

Komentar